Sebuah Berita Inspiratif dan Info Terkini dari Jogja

Jogja Sebagai Poros Pendidikan Sejak Tahun 1911

Diposting oleh On 06.17.00 with No comments

Foto pendidikan di Jogja tempo dulu

Lenterajogja.com, Yogya - Dalam foto itu tampak sosok KH Ahmad Dahlan dan beberapa puluh murid-muridnya di depan “sekolah Muhammadiyah” Kampung Suronatan. Gambar ini diambil oleh seorang Belanda pada tahun 1921. Sedangkan menurut berbagai sumber KH. Ahmad Dahlan sudah merintis “sekolah” sejak 1911.

Mengutip tulisan Djarnawi Hadikusuma yang termuat dalam situs muhammadiyah, ”Sekolah Muhammadiyah”, yakni sebuah sekolah agama, yang tidak diselenggarakan di surau seperti pada umumnya kegiatan umat Islam waktu itu, tetapi bertempat di dalam sebuah gedung, dengan menggunakan meja dan papan tulis, yang mengajarkan agama dengan dengan cara baru, juga diajarkan ilmu-ilmu umum.

Dan memang KH Ahmad Dahlan punya pemikiran bahwa agama dan ilmu pengetahuan tidak dapat dipisahkan. Menurutnya, ketertinggalan umat islam salah satunya adalah ketertinggalan dalam soal penguasaan ilmu-ilmu pengetahuan. Maka salah satu jalan untuk membangkitkan umat harus dilakukan lewat pendidikan.

Kesadaran itu tak hanya dimiliki oleh KH Ahmad Dahlan. Kesadaran bahwa kaum bumiputera harus terdidik juga dimiliki oleh Ki Hajar Dewantara. Sepuluh tahun setelah Muhammadiyah berdiri, Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa.

Bila kita membaca buku berjudul Kota Yogyakarta Tempo Doeloe, maka jumlah sekolah di Jogja pada tahun 1930 relatif sudah banyak. Tercatat bahwa jumlah sekolah yang diusahakan oleh pihak swasta di Jogja sebanyak 162. Yang diusahakan oleh missie 61, lalu 15 oleh zending dan 72 oleh Muhammadiyah. Sedangkan, yang diusahakan oleh pemerintah Hindia-Belanda kala itu sebanyak 278 buah.

Buah dari banyaknya gairah pendidikan di Jogja adalah bangkit dan menyebarnya kesadaran untuk melawan penjajahan. Pendidikan memberikan pencerahan, keberanian, dan konsolidasi gerakan. Guru-guru yang ada diberbagai sekolah Jogja mulai bergabung dalam berbagai pergerakan, diantaranya Budi Utomo, Sarekat Islam. Para guru dan kalangan intelektual, kala itu menjadi penyebar gagasan yang handal. Golongan guru muncul lebih dulu untuk mendidik bangsa dan bekerja ke arah kesejahteraan rakyat.

Maka tak perlu takjub bila Abdurrahman Surjomihardjo menyatakan bahwa Jogja menampilkan diri sebagai salah satu PUSAT PENDIDIKAN yang terpenting.

“Bahkan lebih dari itu, dari kota ini lahir dan berkembang dua corak pendidikan yang menjadi alternatif terhadap landasan kolonial, yaitu; islam dan nasionalistis. Lalu hal itu menyebar ke berbagai daerah,” katanya.

Oleh karena itu, pendidikan tak bisa dilepaskan dari Jogja. Sebutan Jogja sebagai Kota Pendidikan tidak hanya melulu soal jumlah sekolah ataupun kampus yang ada di wilayah ini, tetapi pendidikan menjadi inspirasi daya gerak yang mempengaruhi perkembangan sosial Jogja.

Itu sebabnya kita perlu membayangkan pendidikan di Jogja tak kehilangan arah dan terus “hidup” serta menjadi peran vital. Kita perlu untuk selalu memprioritaskan pendidikan dalam berbagai kebijakan pembangunan daerah, Sabtu (13/5/2017).

Sumber : berbagai sumber

(ISD)
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »