Sebuah Berita Inspiratif dan Info Terkini dari Jogja

Gun Jack, Preman Legendaris Yogyakarta

Diposting oleh On 03.11.00 with No comments

Foto : © Dea Karina

Lenterajogja.com, Yogya -  Satu kisah preman terbesar dan paling berjaya di Yogyakarta dimasanya bernama Agus Joko Lukito atau lebih dikenal dengan nama Gun Jack.

Di dunia kriminalitas ini, Gun Jack menjadi penguasa tunggal. Di luar bisnis bakso, sehari-hari dia mengamankan perjudian lokal, sekaligus dibayar oleh para penguasa yang berada di balik layar menyokong aktivitas para bandar. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) cabang Yogyakarta, melalui sayap organisasi Gerakan Pemuda Kabah, sesekali menggunakan jasanya sebagai petugas keamanan.

Warga Yogyakarta yang mengenalnya akrab, Gun Jack sebenarnya tidak ditakuti. Dia justru dikenal sebagai figur yang baik hati dan berpikiran terbuka. Terbukti saat Gun Jack mengadopsi dan mengasuh seorang bocah lelaki berumur 13 tahun dari Solo, setelah ayahnya - sahabat Gun Jack - meninggal. Bocah itu kini telah dewasa dan dikenal dengan julukan Mas Doni.

Mas Doni yang sekarang 36 tahun, merupakan satu-satunya anak asuh Gun Jack yang mengikuti jejak berkecimpung di dunia preman. Gun Jack pernah memintanya fokus sekolah, tapi Doni tak menuruti perintah ayah angkatnya itu.

"Aku mesti hidup di jalanan karena tidak ada pilihan lain," kata Doni. "Babe tidak pernah menghakimi atau memarahi aku sama sekali. Dia bukan tukang menghakimi. Dia ingin semua orang jujur menjadi dirinya sendiri. Sebagai bentuk balas budi, kuabdikan hidup untuknya."

Berikut adalah pengungkapan kisah perjalanan hidupnya sebagai anak kandung dari Gun Jack, preman legendaris di Yogyakarta seperti dilansir dari vice.com, Jum'at (11/11/2016);

Anak Gun Jack bernama Wulan Mayastika (22) bergelar sarjana psikologi Universitas Gajah Mada, Wulan tumbuh di Badran, Kecamatan Bumijo, sebuah kampung sebelah utara Kantor Samsat Kota Yogyakarta yang dulunya hamparan pemakaman Cina. Sekian dekade silam, para perampok dan pencuri yang menjadi buronan polisi menggunakan pemakaman ini untuk bersembunyi. Lambat laun, rumah-rumah berdiri di atas tanah pekuburan. Hingga kini, Badran masih menanggung cap lingkungan para kriminal. Apabila anda berasal dari Badran, sangat mungkin bila anda mengenal - atau malah anda sendiri - seorang kriminal, penjudi, pemabuk, transgender, atau orang-orang yang dianggap edan oleh masyarakat. Begitulah pengakuan Wulan.

Ketika Wulan masih di kandungan sang ibu, Gun Jack sedang menjalani hukuman kurungan singkat. Dia dibui akibat tidak sengaja membunuh seorang pria saat berkelahi di klub biliyar setempat. Gun Jack bebas tak lama setelah Wulan lahir.

Wulan Mayastika mulai mempertanyakan apa sesungguhnya pekerjaan sang ayah gara-gara rentetan peristiwa sepele. Semuanya dipicu satu keganjilan kecil: cara orang-orang memanggil nama bapaknya. Biarpun saat lahir dia diberi nama Gunardi, nyatanya semua orang di kampung memanggil bapaknya "Gun Jack" penuh hormat, kadang sambil ketakutan. Ada yang memanggilnya Gowok. Nama lain sang bapak yang kesohor adalah Agus Joko Lukito. Tapi dari semua julukan itu, Gun Jack tetap yang paling dikenal.

Bermula dari perkara panggilan itulah, Wulan semakin mempertanyakan cara sang ayah mencari nafkah. Kolom keterangan pekerjaan Gunardi di KTP tertulis wiraswata. Tapi kenapa bapaknya, seorang pemilik warung bakso, mempunyai gerombolan anak buah yang selalu siap diperintah? Selain itu, siklus hidup Gunardi terhitung tak lazim untuk seorang wiraswastawan.

"Aku bingung. Bapakku itu dunianya terbalik, kalau malam buat kerja dan siang buat tidur," kata Wulan saat ditemui di rumahnya bulan lalu. "Aku merasa aneh soalnya temen-temen bapak suka ke rumah kan. Terus mereka itu serem-serem begitu lho bentuknya, tapi orang-orangnya nyenengin."

Kecurigaan Wulan bertambah saat dia menemukan banyak senjata tajam di mobil sang ayah. Lagi-lagi, dia tak sengaja memergokinya. "Aku pernah suatu hari berangkat sekolah diantar ibuku naik mobil. Terus pas mengikat tali sepatu di bawah jok itu ada pedang-pedang gitu," ujarnya. "Aku tanya ibu, 'ini apa?', tapi ibuku cuma bilang 'oh itu dari tempat babe'."

Malioboro menjadi salah satu pengalaman sisi gelap Gun Jack yang sangat diingat Wulan. Saat itu Gun Jack memarkir mobil di kawasan yang seharusnya bebas kendaraan. Tak berapa lama juru parkir menegurnya. Gun Jack murka, memanggil kawan-kawannya, lalu mengeroyok si tukang parkir. "Aku melihat sendiri bapakku salah parkir dan mukulin tukang parkir," kata Wulan mengenang peristiwa sekian tahun lalu itu.

Peristiwa yang berbeda, sepulang Wulan pulang dari sekolah, semua kaca jendela rumahnya pecah. Penyebabnya ternyata pertempuran antara geng Gun Jack dengan kelompok musuh yang ingin balas dendam. "Semua kaca hancur berantakan," kata Wulan. "Warung baksoku itu juga pernah dibom sama kelompok preman yang lain. Lumayan, masuk koran juga waktu itu."

"Semua orang menegenal bapakku," ujar Wulan. Kekuasaan dan pengaruh Gun Jack mulai pertengahan 1990-an hingga awal abad 21 meluas ke seantero Kota Yogyakarta, tak hanya di Badran.

Waktu berjalan, Wulan tumbuh dewasa. Gun Jack mulai membeberkan satu lagi sisi kehidupan yang selama ini dia sembunyikan. Gun Jack mengajak anak gadisnya bicara empat mata. Gunardi rupanya khawatir Wulan membenci dirinya, seorang preman besar. "Dia pikir aku malu sebagai anaknya," ujarnya. Sekonyong-konyong Gun Jack mengeluarkan sebuah kartu anggota Badan Intelijen Negara (BIN). "'Ini lho kerjaan babe sebenarnya. Kamu jangan malu lagi ya punya bapak babe, kamu harusnya bangga'" kata Wulan menirukan ucapan ayahnya saat itu.

Rasa penasaran Wulan terjawab sudah, selain sepak terjangnya sebagai preman, Wulan sebetulnya menyadari ayahnya sering bepergian ke luar kota. Kadang bahkan hingga mancanegara. Ayahnya meninggalkan rumah paling lama saat terjadi kerusuhan di Poso, Sulawesi Tengah awal 2000-an. Begitu pula ketika peristiwa Bom Bali pertama terjadi pada 2002.

Sejak pembeberan Gun Jack, Wulan lebih menerima sang ayah apa adanya. Hubungan mereka semakin dekat, sekalipun Gun Jack kadang lama tak pulang. "Ternyata karena dia masuk intelijen."

Berakhirnya Masa Gun Jack

Foto : © Dea Karina

Gun Jack meninggal pada 2011 akibat limfoma, kanker kelenjar getah bening yang menggerogoti kekebalan tubuh. Sejak itu, bagi Wulan, Yogyakarta tidak lagi sama. Sepeninggal Gun Jack, Yogyakarta dikuasai kelompok preman baru.

Wulan menuturkan ayahnya adalah pria yang berusaha mendirikan peternakan agar para pekerja seks transgender dapat memiliki pekerjaan layak. Gun Jack punya kepedulian yang kuat pada kaum-kaum terpinggirkan.

Ini adalah perbedaan cara Gun Jack dari preman yang sekarang menguasai Yogya: Dia bisa berbaur. Dia rutin bertemu tukang becak, pedagang angkringan di segala penjuru, serta para pedagang kaki lima. Gun Jack rutin memberi bantuan sembako bagi janda-janda miskin seputaran Badran saat masih berkuasa.

Kehadiran Gun Jack membuat kawasan-kawasan pelacuran kumuh di Yogyakarta, dalam istilahnya, menjadi "punya wibawa". Terutama sentra jasa prostitusi Pasar Kembang, dan Ngebong di pinggiran rel Stasiun Tugu. Walaupun di sana berkumpul pemabuk, pelacur, pencuri, hingga pemadat, semua penghuninya bersatu menjadikan Gun Jack sebagai bapak mereka semua," ujar Doni

Sepeninggalnya Gun Jack, tak ada figur preman yang paling berkuasa yang mampu meneruskan dan menggantikannya. 

Di Era sekarang, Doni menilai para preman penerus Gun Jack lebih sibuk bersaing antar geng tanpa memperhatikan kalangan minoritas. "Bagi orang-orang yang hidup di jalanan sekarang sih kondisinya kacau," ujarnya. Mereka saling baku hantam demi kekuasan dan harta belaka. Mereka butuh seorang figur yang bisa memberi contoh, figur yang bisa mengajari bagaimana cara hidup di jalanan secara terhormat dan menghargai sesama dan tetangga sekitar."imbuhnya.

Begitulah sekelumit perjalanan kisah preman legendaris Yogyakarta dimasanya yang dikutip dari sebuah sumber akurat yang bisa menjadikan sebuah pelajaran ataupun mengambil sebuah inspirasi baiknya.

(ISD)


Next
« Prev Post
Previous
Next Post »