Sebuah Berita Inspiratif dan Info Terkini dari Jogja

Asal Usul Kata Bajingan Dan Sontoloyo

Diposting oleh On 01.59.00 with No comments



Lenterajogja.com, Yogya - Kata "Bajingan" dan "Sontoloyo" bagi sebagian besar masyarakat Yogyakarta pastilah pernah bahkan sering mendengar kata ini. Tapi kata tersebut terkesan berkonotasi negatif bagi sebagian orang, bagi yang belum mengetahui makna sesunggunya dari kata tersebut, mari coba simak ulasannya, Jum'at (28/10/2016):

Bajingan adalah sebuah istilah kata yang muncul di tanah Jawa untuk menunjuk seorang pengendara (sopir) gerobak sapi. 

Lantas kenapa istilah bajingan kemudian bergeser menjadi sebuah kata makian? 
Padahal kata itu adalah merujuk sebuah profesi seseorang? 

Dahulu kala pada tahun 1940 an, di daerah Banyumas sarana transportasi sangat sulit untuk ditemui. Masyarakat yang ingin berkegiatan di kota seperti berdagang, atau hanya mejeng biasanya menggunakan jasa gerobak sapi (cikar). Pada saat itu gerobak sapi merupakan satu satunya alat transportasi yang bisa diandalkan oleh masyarakat pinggiran untuk membawa mereka ke kota, selain berjalan kaki.

Namun kedatangan  cikar yang disopiri oleh Bajingan ini tidak menentu, bisa siang hari, pagi hari, bahkan tengah malam. Karena ketidakpastian waktu tersebut, masyarakat yang ingin numpang gerobak sapi terpaksa jalan kaki jika.

Karena itulah keluar kalimat sedikit sindiran atau umpatan seperti ini : “Bajingan suwe tenan to tekane!” (bahasa Jawa) yang artinya: “Bajingan lama sekali sih datengnya”. Dari situ Bajingan mengalami pergeseran makna menjadi kata umpatan.

Bajingan dalam konotasi negatif 
Dahulu, umpatan bajingan hanya digunakan sebagai analogi atas keterlambatan sesuatu atau seseorang, misalnya “Seka ngendi bae kowe, suwe temen to kaya bajingan” yang artinya: Darimana saja kamu, lama sekali seperti bajingan. Namun pada masa sekarang, bajingan menjadi kata umpatan yang lebih umum dan tidak merujuk pada kekesalan mengenai keterlambatan atas sesuatu.



Sedangkan sontoloyo adalah sebutan bagi pemilik pekerjaan sebagai pengembala Bebe katau disebut juga tukang angon bebek di Pulau Jawa. 

Seorang sontoloyo biasanya mengembala beratus ekor bebek dengan cara berpindah mengikuti musim panen padi di daerah pesawahan untuk menggembalakan bebeknya. 

Sontoloyo dalam konotasi negatif 
Konon dalam profesinya mengembala beratus bebek akan menyulitkan orang lain ketika rombongan bebek tersebut menyebrangi jalan, dan terkadang bebek tersebut ada yang memakan padi yang belum dipanen, sehingga orang lain yang tidak sabar akan mengumpat "Dasar sontoloyo".

(ISD)
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »