Sebuah Berita Inspiratif dan Info Terkini dari Jogja

Tradisi Sungkeman Masyarakat Jawa

Diposting oleh On 21.51.00 with No comments



Lenterajogja.com, Yogya - Mungkin bagi kebanyakan orang bersalaman antar satu orang dengan orang lainnya adalah hal yang biasa, bersalaman dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja, baik pada acara tertentu maupun pada saat bertemu atau berpapasan di jalan. Namun di Indonesia ada aktivitas bersalaman yang tergolong unik, aktivitas itu sering disebut dengan sungkeman. 

Sungkeman sendiri berasal dari kata sungkem yang maknanya bersimpuh atau duduk berjongkok sambil mencium tangan. Biasanya sungkeman dilakukan oleh orang muda kepada orang tua, namun lazimnya hal ini dilakukan oleh seorang anak kepada orang tua mereka. Bagi orang Jawa sungkeman merupakan tradisi turun temurun.

Sungkeman sering dilakukan pada acara-acara seperti kelulusan, perpisahan dan lebaran, namun ada juga yang melakukannya diluar waktu-waktu itu tujuannya untuk meminta maaf atas perilaku kurang menyenangkan yang dilakukan maupun mengharapkan doa dari orang yang disungkem. Tak jarang mereka yang melakukan sungkeman berderai air mata sembari sesenggukan, sementara yang disungkem pun juga mengalami hal serupa sambil memberi nasehat-nasehat bijak sekaligus doa-doa yang baik.

Perlu dipahami bahwa sungkeman bukanlah bentuk penyembahan seorang manusia kepada manusia, namun sungkeman merupakan bentuk penghormatan kepada orang yang lebih tua. Sungkeman menunjukkan kesopan santunan orang yang masih muda. Tak bisa dipungkiri bahwa sungkeman menjadi salah satu cara untuk mendekatkan hubungan antara anak dengan orang tuanya, atau antara orang muda dengan orang tua.

Dalam perkembangannya sekarang ini budaya sungkeman semakin jarang kita temukan  padahal filsafah sungkeman ini memiliki makna yang sangat bagus dan patut kita tanamkan pada generasi penerus agar mereka senantiasa mengingat betapa budaya Jawa senantiasa menjunjung tinggi bakti tulus kepada orang tua.

Sejarah Sungkeman

Tak banyak yang mengerti jika sebenarnya tradisi halal bihalal, atau silaturahmi untuk saling memaafkan di hari Lebaran, ternyata berasal dari kota Solo. Ya, menurut penjelasan Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Puger, Pengageng Kasentanan Keraton Surakarta, sejarah halal bihalal berawal dari tradisi sungkeman di Keraton Kasunanan Surakarta, dan Kadipaten Pura Mangkunegaran.

“Ada sejarah yang menyebutkan, jika sungkeman massal pertama kali dilakukan di era KGPAA Sri Mangkunegara I. Saat itu, beliau bersama seluruh punggawanya berkumpul bersama dan saling bermaafan setelah salat Id dilakukan,” beber Gusti Puger begitu dia biasa disapa.

Namun seiring dengan pergolakan yang terjadi di Nusantara pada saat itu, pihak Keraton sendiri tak bisa leluasa menggelar tradisi sungkeman. Penyebabnya karena kaum kolonial mencurigai tradisi sungkeman, sebagai pertemuan terselubung untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah.

Bahkan dikisahkan, saat terjadi prosesi sungkeman di gedung Habipraya, Singosaren, saat Lebaran pada tahun 1930, Belanda nyaris saja menangkap Ir. Soekarno, dan dr. R. Radjiman Widyodiningrat yang merupakan dokter pribadi SISKS Paku Buwono (PB) X, Raja Keraton Surakarta.

Sontak PB X yang juga berada di lokasi pada saat itu, langsung spontan menjawab jika itu bukan aksi penggalangan masa, tapi halal-bihalal saat Lebaran. Dan yang dimaksud halal bihalal yang sungkeman itu sendiri.

“Jadi memang sangat diawasi pihak kolonial saat itu. Tapi karena peristiwa itulah, akhirnya PB X justru malah membuka tradisi sungkeman menjadi semacam open house seperti sekarang,” jelas Gusti Puger.

Tata Cara Sungkeman

Pada umumnya adat sungkeman dilakukan pada saat lebaran pertama, misalnya seorang cucu yang ingin sungkem kepada neneknya akan menghadap sang nenek dan duduk bersimpuh didepan nenek, kemudian cucu mengucapkan kalimat sungkeman dalam bahasa Jawa.
Kepareng matur simbah sepisan kula sowan mriki mboten sanes badhe silaturahmi, kaping pindhonipun ngaturaken sugeng riyadi, sedaya lepat kula nyuwun agunging pangapura, ingkang kula sengaja menapa mboten dipun sengaja mugi-mugi saged dipun lebur ing dinten riyadi menika, amin.
Atau lebih simpelnya,
 "Ngaturaken sugeng riyadi, nyuwun pangapunten sadaya kalepatan kula, nyuwun pangestunipun.”
(Saya mengucapkan selamat hari raya, mohon maaf atas segala kesalahan saya, dan minta doa restunya).
Biasanya, kalimat tersebut akan dijawab dengan permohonan maaf kembali dan disambung dengan do’a dari kerabat yang dituakan dan diamini oleh yang sungkem. Dan semuanya tentu tidak luput dari penggunaan tingkat dalam bahasa jawa sesuai tingkat usianya.

Nah, itulah contoh kalimat sungkem di hari raya dari sang cucu kepada neneknya. Kita juga bisa merangkai perkataan sendiri, yang terpenting adalah niat kita tulus. Dan sembari berkata tersebut kita bersujud taklim kepada orang tua, serta mencium tangannya.

Jika anda berniat menghadap orang tua atau orang yang dituakan dan ingin menghaturkan sujud sungkem kepadanya, silahkan pandai-pandai menyusun kata-kata yang pantas. Atau untuk keperluan sungkeman pernikahan, cara yang dilakukan adalah hampir sama dan dapat disesuaikan sendiri kalimatnya. (ISD)

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »