Sebuah Berita Inspiratif dan Info Terkini dari Jogja

Miras Oplosan Sang Penyabut Nyawa di Jogja

Diposting oleh On 01.29.00 with No comments



Lenterajogja.com, Yogya - Jogja kembali dihebohkan dengan menginggalnya belasan orang akibat menenggak miras oplosan. sebenarnya apa kandungan yang berada dalam minuman keras tersebut kenapa efeknya sampai bisa menjadi cairan pencabut nyawa Berikut penjelasan dari team lenterajogja.com.

Lapen merupakan sebutan untuk miras oplosan yang ada di wilayah Yogyakarta, minuman ini diracik secara manual dari bahan-bahan berbahaya yang tidak diduga sebelumnya. Dari data kepolisian, biasanya para penikmatnya mencampur lapen dengan bahan kimia lain, seperti, parfum, pembersih lantai, obat nyamuk cair, hingga pil tidur.

Miras tersebut mengandung metanol mendekati 100 persen. Bahan kimia yang juga sering disebut sebagai spiritus itu merupakan jenis alkohol dari gas Bumi yang biasa digunakan sebagai bahan bakar.

Metanol memiliki daya rusak lebih tinggi dan bukan untuk dikonsumsi. Dampak dari mengonsumsi miras oplosan ini adalah korban mengalami kebutaan dan kerusakan organ bagian dalam.

Sejarah Lapen
Sejarah lapen dari mulut ke mulut ditemukan oleh seseorang bernama Sucipto pada era 90-an. Sucipto adalah tukang becak yang mencoba berkreasi menciptakan miras yang murah meriah. Sucipto meraciknya dari minuman bersoda yang dicampur obat sakit kepala, lalu diberi sedikit cairan pencuci piring. Ramuan itu serentak menjadi ramuan awal lapen.

Nama lapen sendiri diberikan oleh rekan Sucipto yang bernama Bagyo, tukang parkir di wilayah Sostrowijayan, saat minum Bagyo mengucapkan kata, aduh lapen tenan ki, yang artinya langsung pening. Namun, ada juga yang menyebut lapen, merupakan singkatan langsung dari langsung penak (enak).

Semenjak itu, nama Sucipto mulai terkenal di kalangan penggemar miras yang berbudget minim di Kota Yogyakarta. Ia juga kemudian berhenti jadi tukang becak dan focus berdagang lapen.

Ramuan Sucipto terkenal sangat hebat dan canggih, namun Sucipto mulai memiliki pesaing, yaitu Joko, seorang penjual warung kelontong yang membuat lapen tandingan berbahan minuman bersoda ditambah minuman berenergi dan pil tidur.

Singkat cerita, Sucipto dan Joko, kemudian sama-sama menjadi korban miras oplosan. Keduanya tewas usai menenggak lapen racikannya masing-masing saat mencoba uji tanding kekuatan lapen keduanya.

Jadi buat warga jogja sebagai pecinta lapen, setelah membaca artikel ini apakah Anda masih akan tetap nekat tetap mengkonsumsinya atau apakah langsung akan berhenti total ?. Itu semua kami serahkan kepada Anda karena resiko ditanggung penumpang. (ISD)
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »