Sebuah Berita Inspiratif dan Info Terkini dari Jogja

Makna Tersirat Dari Lagu Gundul-Gundul Pacul

Diposting oleh On 15.29.00 with No comments


Lenterajogja.com, Yogya - Saat masih seumuran anak-anak tentunya siapa yang tidak mengenal lagu ini, lagu yang begitu populer dikalangan anak-anak saat itu, yaitu lagu daerah Gundul-Gundul Pacul . Saat ini sepertinya mulai terungkap arti tersirat dari setiap liriknya. 

Gundul gundul pacul-cul, gembelengan.

Nyunggi nyunggi wakul-kul, gembelengan.

Wakul ngglimpang segane dadi sak latar…

Lagu yang konon diciptakan oleh RC Hardjosubroto ini mulai diragukan siapa pencipta aslinya karena konon tembang Jawa ini diciptakan pada tahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga dan teman-temannya yang masih remaja dan mempunyai arti filosofis yang dalam dan sangat mulia. Konon, artinya kurang lebih seperti ini:

Gundul: adalah kepala plonthos tanpa rambut. Kepala adalah lambang kehormatan, kemuliaan seseorang. Rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala. Maka gundul artinya kehormatan yang tanpa mahkota

Sedangkan pacul: adalah cangkul yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat. Pacul: adalah lambang kawula rendah yang kebanyakan adalah petani.

Gundul pacul artinya: bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia adalah pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya.



Orang Jawa mengatakan pacul adalah papat kang ucul (empat yang lepas).

Artinya bahwa: kemuliaan seseorang akan sangat tergantung 4 hal, yaitu: bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya.

1. Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat.

2. Telinga digunakan untuk mendengar nasihat.

3. Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan.

4. Mulut digunakan untuk berkata-kata yang adil.

Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya.

Gembelengan artinya: besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya.

GUNDUL-GUNDUL PACUL CUL artinya orang yang di kepalanya sudah kehilangan 4 indera di atas yang mengakibatkan sikapnya berubah jadi GEMBELENGAN (= congkak).

NYUNGGI-NYUNGGI  WAKUL KUL (menjunjung amanah rakyat) selalu sambil GEMBELENGAN (= sombong hati), akhirnya WAKUL NGGLIMPANG (amanah jatuh gak bisa dipertahankan) SEGANE DADI SAK LATAR (berantakan sia-sia, tak bisa bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat). (ISD)
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »