Sebuah Berita Inspiratif dan Info Terkini dari Jogja

Lentera Jogja, Sebuah Media Penerang Tentang Keberagaman Kultur di Jogja

Diposting oleh On 08.28.00 with No comments

Add caption
Lenterajogja.com, Yogya - Pemberian nama "Lentera Jogja" dikarenakan fungsi lentera adalah sebagai penerang di saat dibutuhkan. Sedangkan Jogja merupakan sebuah kota yang memiliki keunikan beragam kultur kebudayaan, dengan keistimewaannya jogja sampai mampu membuat wisatawan  atau pelajar dari luar jogja betah dan bahkan banyak yang ingin menetap.

Begitu juga kami ingin memberi cahaya sebuah kabar dan informasi di seluruh lapisan jogja, karena keistimewaan kultur di Jogja yang tidak akan pernah habis dan jemu untuk dikupas..

Masyarakat Yogyakarta dikenal menjujung tinggi sikap toleransi atas keberagaman budaya dari beberapa kultur, yaitu budaya asli dan budaya pendatang. Kultur budaya asli meliputi budaya masyarakat kota Yogyakarta itu sendiri. Sedangkan kultur budaya pendatang merupakan gabungan dari berbagai kultur budaya luar daerah yang dibawa masuk ke dalam kultur budaya asli kota Yogyakarta.

Percampuran kebudayan dari luar kebudayaan asli masyarakat Yogyakarta itu sendiri sangatlah beragam. Dimulai dari gaya hidup, iklim pendidikan, serta kehidupan modern yang dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi. Meski begitu, Yogyakarta masih menjunjung tinggi kearifan lokal dan segala macam kebudayaan yang perlu dilestarikan. Maka tidaklah heran jika budaya asli Yogyakarta tidak dapat dikalahkan oleh budaya-budaya asing yang masuk ke kota ini.

Peran Media Online

Ditengah pesatnya perkembangan media massa, khususnya media online, peran khalayak tidak lagi menjadi konsumen berita yang pasif. Perilaku khalayak bergerak kearah yang semakin aktif dan progresif untuk mengkonsumsi sebuah pengetahuan berita dan informasi dengan cepat.

Mahasiswa, penyumbang keberagaman budaya

Selain menyandang predikat kota budaya, Yogyakarta juga berpredikat sebagai kota pendidikan dan kota pariwisata. Hal tersebut memberikan daya tarik tersendiri bagi para pendatang yang sekedar berkunjung ataupun memilih untuk menetap. Sehingga tidak hanya faktor kota budaya saja yang menyumbangkan toleransi pluralisme, akan tetapi juga faktor pendidikan dan obyek wisata. Meski begitu, budaya tetap mendapat porsi besar atas keberagaman yang tercipta di kota Yogyakarta.

Sebagai “kawah candradimuka” para penuntut ilmu, Yogyakarta menjadi pusat perhatian dan acuan dari segi pendidikan. Ki Hadjar Dewantara mencetuskan sistem pendidikan yang relevan dari masa ke masa menjadikannya diberi gelar Bapak Pendidikan Nasional sekaligus membuat Yogyakarta berpredikat kota Pendidikan.

Atmosfer akademik yang sangat kental membuat Yogyakarta semakin pantas dipandang sebagai kota terbaik untuk menuntut ilmu. Prosentase pendatang tertinggi berasal dari mahasiswa. Hal ini dikarenakan Yogyakarta mempunyai 4 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan lebih dari 150 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang tersebar di seluruh wilayahnya. Bahkan, mahasiswa yang tersebar di kota Yogyakarta pun mencapai 300.000. Mahasiswa tersebut datang dari segala penjuru wilayah Indonesia untuk menempuh pendidikan tinggi.

Kehadiran pendatang dari luar tentu saja disertai kehadiran beragam budaya-budaya dari daerah asal mereka. Sebagai contoh, mahasiswa yang berasal dari kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota-kota besar lain biasanya membawa budaya hedonisme. Hal tersebut dapat dilihat dari lifestyle mereka yang terkesan serba mewah, terlebih mereka yang berasal dari keluarga kaya. Bermula dari fashion, hingga tempat nongkrong yang bertarif di atas rata-rata.

Selain gaya hidup, keberagaman bahasa juga perlu disoroti. Hal ini dikarenakan bahasa adalah hal yang paling vital untuk berkomunikasi. Sementara ragam bahasa di Indonesia berjumlah ratusan, beruntung ada bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang berfungsi untuk mempersatukan komunikasi antar daerah. Bahkan keberadaan mahasiswa turut menyumbang kebudayaan berfikir kritis pada lingkungan masyarakat kota Yogyakarta. Budaya berfikir kritis banyak dituangkan mahasiswa dalam aksi-aksi sosial yang mereka selenggarakan.

Wisatawan dan sumbangsih keberagaman

Pluralisme yang ada di Yogyakarta memberikan dampak positif pada segi ekonomi dan pariwisata. Terkenal dengan wisata budaya dan sejarahnya, maka tidaklah heran apabilaYogyakarta mampu menarik animowisatawan domestik maupun mancanegara. Tempat wisata budaya yang sering dikunjungi para wisatawan meliputi Kraton Yogyakarta dan Malioboro.

Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat adalah istana milik Sultan Yogyakarta yang tengah berkuasa, yaitu Sri Sultan Hamengku Bawono X. Selain sebagai raja, Sri Sultan Hamengku Buwono X adalahGubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Budaya kerajaan Jawa yang masih kental di lingkup kraton kemudian dibawa masyarakat Yogyakarta ke dalam kehidupan mereka sehari-hari. Tidakah berlebihan jika Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dipandang sebagai kiblat kebudayan kota Yogyakarta bagi masyarakatnya.

Dari Kraton, banyak kebudayan-kebudayaan kerajaan ataupun kebudayan Jawa masih dijaga. Sebagai contoh, upacara sekaten untuk memperingati maulud Nabi Muhammad SAW, grebeg dan labuhan untuk menghormati ruh-ruh dewa.

Sementara itu, jalan Malioboro juga tidak kalah menarik dari Kraton Yogyakarta. Maliobor terkenal dengan wisata belanjanya. Hal ini dikarenakan sepanjang jalan Malioboro berjajar toko-toko oleh-oleh khas kota Yogyakarta. Seperti toko batik, kerajinan, serta makanan khas dari kota Yogyakata. Selain itu, terdapat pula beberapamall besar di antara barisan toko-toko lainnya.

Budaya "hedoniseme" yang dibawa oleh mahasiswa dari golongan menengah keatas, membaur dengan budaya konsumtif para wisatawan. Perubahan gaya hidup yang semakin mewah mendorong pertumbuhan ekonomi di Yogyakarta. Belum lagi maraknya gedung-gedung bertingkat, mall, hotel berbintang serta tempat-tempat hiburan lain untuk menarik wisatawan.

Pada intinya, kebudayaan-kebudayaan seperti itu akan membawa masayarakt masuk ke dalam kemajuan berkebudayaan modern. Kebudayaan modern disini mendorong masyarakat untuk melek teknologi, bergaya hidup modern dan kemajuan ekonomi.

Keistimewaan Masyarakat Jogja

Lintang ing mega, sampurna nek akeh tunggale (bintang di angkasa akan terlihat sempurna indahnya jika ia tidak sendiri). Paribasan Jawa atau menjadi peribahasa ketika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia itu, tidaklah asing bagi masyarakat Jawa. Dari peribahasa itulah masyarakat Jawa, khususnya Yogyakarta memaknai sebuah keberagaman dan menjaga pluralisme dengan cara saling menghormati perbedaan, saling membagi kebudayan tanpa menghilangkan budaya asli yang menjadi jati diri. Sekali lagi,lintang ing mega, sampurna nek akeh tunggale, sebagai penghormatan masyarakat Jawa atas keberagaman budaya di Yogyakarta. (ISD)
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »