Sebuah Berita Inspiratif dan Info Terkini dari Jogja

Upacara Cembengan atau Kirab Temanten Tebu Pabrik Gula Madukismo

Diposting oleh On 23.06.00 with No comments

Kirab Temanten Tebu pada 29/04/2016


Zonairwan.com, Yogya - Setiap tahun, menjelang musim giling pabrik gula madukismo menggelar upacara perkawinan tebu. Tradisi ini telah berlangsung selama puluhan tahun sejak PG madukismo berdiri pada tahun 1955 dan diresmikan presiden sukarno tahun 1958.

Upacara kirab manten tebu atau yang dikenal dengan upacara cembengan merupakan ritual untuk meminta keselamatan dan hasil gula yang baik. Perkembangan selanjutnya, upacara ini bukan sekedar ritual para pekerja dan petani tebu, namun telah menjadi pesta rakyat. Upacara cembengan yang diadakan setiap tahun menjelang muim giling tersebut menjadi bertambah meriah dengan berbagai pergelaran kesenian dan pasar rakyat.

Tradisi cembengan sebenarnya merupakan tradisi warga tionghoa , cing bing. Cing bing merupakan tradisi ziarah yang dilakukan oleh masyarakat tionghoa ke makam leluhur mereka sebelum melaksanakan karya besar. Tradisi cing bing ini biasanya dilakukan oleh orang-orang tionghoa yang bekerja di pg madukismo. Perkembangan kemudian bukan warga tionghoa yang melakukan tradisi ini, masyarakat local pun turut andil di dalamnya. Masyarakat local menyebut tradisi ini dengan cing bing-an , yang kemudian popular dengan istilah cembengan, karena kata cing bing-an sulit dilafalkan oleh orang jawa.

a.  Keistimewaan
Berbagai keunikan tampak dalam upacara cembengan ini. Bukan hanya kesenian tradisional maupun modern yang di gelar, namun ritual kirab manten tebu itu sendiri menjadi sesuatu yang menarik. Karena ini adalah upacara pernikahan tebu laki-laki dan perempuan.

b.   Sejarah
Setiap tahun , menjelang musim giling pabrik gula madukismo menggelar upacara perkawinan tebu. Tradisi ini telah berlangsung selama puluhan tahun sejak pg madukismi berdiri pada tahun 1955 dan diresmikan presiden sukarno tahun 1958.

Upacara kirab manten tebu atau yang dikenal dengan upacara cembengan merupakan ritual untuk meminta keselamatan dan hasil gula yang baik. Perkembangan selanjutnya, upacara ini bukan sekedar ritual para pekerja dan petani tebu, namun telah menjadi pesta rakyat. Upacara cembengan yang diadakan setiap tahun menjelang muim giling tersebut menjadi bertambah meriah dengan berbagai pergelaran kesenian dan pasar rakyat.

Tradisi cembengan sebenarnya merupakan tradisi warga tionghoa , cing bing. Cing bing merupakan tradisi ziarah yang dilakukan oleh masyarakat tionghoa ke makam leluhur mereka sebelum melaksanakan karya besar. Tradisi cing bing ini biasanya dilakukan oleh orang-orang tionghoa yang bekerja di pg madukismo. Perkembangan kemudian bukan warga tionghoa yang melakukan tradisi ini, masyarakat local pun turut andil di dalamnya. Masyarakat local menyebut tradisi ini dengan cing bing-an , yang kemudian popular dengan istilah cembengan, karena kata cing bing-an sulit dilafalkan oleh orang jawa.

c.  Puncak Kegiatan
Setiap tahun menjelang musim giling, pabrik gula madukismo selalu mengadakan upacara yang di sebut dengan cembengan, atau biasa di sebut juga dengan kirab temanten tebu. Yang di ikuti dengan berbagai macam pertunjukan-pertunjukan untuk meramaikan upacara tersebut. Diantaranya yaitu :
Ritual pertama yang digelar merupakan ziarah makam. Diadakan di sejumlah makam pepundhen, di makam Majapahit, makam Bah Depok dan makam Rogocolo. Ritual sesaji di ketiga makam tersebut dilakukan dengan penyebaran ancak-ancak buangan berisi tumpeng sewu dan beragam jenis sesaji lainnya. Pada intinya, upacara sesaji itu merupakan ucap syukur dan selamatan agar selama masa panen dan giling tebu diberi kelancaran dan keselamatan.

Ritual berikutnya adalah pergelaran wayang kulit, yang diselenggarakan di pantai Parangkusumo. Gelar wayang kulit yang berlangsung semalam suntuk. Keesokan harinya, ritual dilanjutkan dengan upacara penyembelihan kambing kendit dan selamatan di tobong gamping dan pompa air Jogonalan. Ini dilakukan sebagai lambang ucap syukur atas berkah pengairan yang telah menyuburkan berhektar tanaman tebu hingga menghasilkan panen yang melimpah.

Ucap syukur atas berkah yang melimpah serta perayaan kebahagiaan itu tak hanya berhenti pada simbolisasi sesaji. Tapi juga dieja-wantahkan dalam berbagai aksi kemanusiaan seperti donor darah, khitanan massal, pengobatan gratis secara medis dan pemberian santunan kepada yatim piatu. Ini dilakukan sebagai wujud nyata dari pemerataan berkah yang melimpah. Tak ketinggalan pula istighotsah di masjid Babusallam Madukismo, dan gelar kesenian dengan pentas Band, Campursari, Kroncong dan Kethoprak Mataram.

Sebagai puncak ritual jelang musim giling tebu di PG Madukismo , diselenggarakan pesta pernikahan tebu temanten. Kirab tebu temanten yang melibatkan arak-arakan prajurit mataram serta berbagai kesenian seperti jatilan dan reog tersebut digelar usai sholat asar. Sebelum di arak, terlebih dahulu diadakan doa bersama dan selametan di gedung madu candhya. Temanten tebu yang berupa dua bongkok tebu pilihan berbalut kertas merah putih, dikirab dengan kereta kuda Kiai Banyu Roto, buatan inggris tahun 1904. Kereta pusaka zaman Sultan HB VII yang bertahta hingga tahun 1920 itu berjalan anggun bagaikan sedang menghantar dua pengatin bangsawan.

Sebelum pernikahan berlangsung, pasangan pengantin di arak mengelilingi kompleks pabrik pg madukismo. Tebu tersebut juga di beri nama menurut jenis kelamin masing-masing. Penamaan sepasang pengantin tebu ini berbeda setiap tahunnya, tergantung hari pelaksanaan kirab manten tebu ini dilaksanakan.

Menurut berbagai sumber, pemberian nama tebu dan menikahkan sepasang tebu mengandung makna bahwa pasangan tersebut akan membentuk keluarga yang damai dan sejahtera. Makna lebih jauh dari penamaan dan perkawinan tersebut adalah bentuk kerja sama yang baik antara perusahaan dan para petani tebu.

Tebu yang di kirab berjumlah Sembilan batang dengan panjang sekitar empat meter setiap jenis kelamin. Tiap-tiap pasangan diikat menjadi satu menurut jenisnya. Tebu yang menjadi symbol laki-laki berwarna hitam, sedangkan yang menjadi symbol perempuan berwarna kuning. Masing-masing jenis kelamin tebu menurut tata upacara cembengan dan jenis tebu berasal dari wilayah perkebunan yang berbeda.

Pasangan pengantin tebu ini diarak menggunakan kereta yang ditarik oleh dua ekor kuda. Arak-arakan tersebut menempuh rute sepanjang kurang lebih 1 hingga 3 kilometer. Barisan paling depan biasanya adalah kelompok marching band dari beberapa sekolah di sekitar pg madukismo, kelompok kesenian seperti kuda lumping, dan para prajurit kraton Yogyakarta. Empat sosok punokawan, yaitu semar, petruk, bagong, dan gareng mengapit di sisi kanan dan kiri kereta yang membawa pengantin tebu. Barisan di belakangnya adala para petani tebu dan karyawan yang ditunjuk. Sebelum mencapai lokasi penggilingan, pasangan tebu itu akan dinikahkan di masjid yang berada di lingkungan pg madukismo.

Setelah para petani menyerahkan pengantin tebu secara simbolis kepada pihak pabrik, acara dilanjutkan dengan doa bersama untuk memohon keselamatan. Sepasang manten tebu diletakkan di mesing penggiling. Pasangan inilah yang akan di giling pertama kali ketika proses penggilingan tebu dilakukan. Di sebelah mesin berbagai jenis sesajen digelar berjajar. Sesajen tersebut berupa dua kepala sapi yang dikubur dekat mesin penggiling, serta tumpeng, ingkung, dan buah-buahan sebanyak 40 buah. Jumlah ini melambangkan jumlah unit kerja yang ada di pg madukismo.
Selain ritual doa bersama mengarak pengantin tebu, dalam rangkaian upacara cembengan tersebut juga digelar berbagai jenis kesenian. Ada pergelaran wayang kulit, festival band, pertunjukan ketoprak, pentas music dan pasar malam.

d.  Tujuan
Upacara kirab manten tebu atau yang dikenal dengan upacara cembengan merupakan ritual untuk meminta keselamatan dan hasil gula yang baik. Perkembangan selanjutnya, upacara ini bukan sekedar ritual para pekerja dan petani tebu, namun telah menjadi pesta rakyat. Upacara cembengan yang diadakan setiap tahun menjelang musim giling tersebut menjadi bertambah meriah dengan berbagai pergelaran kesenian dan pasar rakyat.

e.   Lokasi
Upacara ini dilakukan di kompleks pabrik gula madukismo yang berada di dusun padokan , kelurahan tirtonirmolo, kecamatan kasihan, kabupaten bantul. Desa ini terletak sekitar 4 km kearah barat daya dari kota Yogyakarta.(ISD)


Next
« Prev Post
Previous
Next Post »