Sebuah Berita Inspiratif dan Info Terkini dari Jogja

"Topo Bisu" Mubeng Beteng 1 SYURO 1437 H

Diposting oleh On 19.57.00 with No comments


Malam tahun baru Jawa 1 Sura atau tahun baru Islam 1 Muharam bagi sebagian masyarakat Jawa diisi dengan melakukan ritual "tapa bisu mubeng beteng" Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Tradisi Mubeng Benteng ini merupakan perjalanan mengelilingi Benteng Kraton. Abdi dalem Kraton dan masyarakat umum berjalan kaki mulai pukul 00.00 WIB pada malam 1 Suro dari Keben-Jalan Retowijayan-Jalan Kuaman-Jalan Agus Salim-Jalan Wahid Hasyim sampai Pojok Benteng Wetan. Dari Pojok Benteng Kulon terus menuju Jalan MT Haryono sampai Pojok Benteng Wetan-Jalan Brigjen Katamso-Jalan Ibu Ruswo-Alun Alun Utara. Selama perjalanan tidak diperkenankan untuk berbicara. Lampu penerangan di rute yang dilalui pun dipadamkan, hanya ada beberapa penerang obor. Perjalanan ini lebih kurang sepanjang empat kilometer.

 Sebelum peserta Mubeng Benteng dilepas oleh sejumlah pengageng Kraton, terlebih dahulu diawali kenduri, macopat, dan doa bersama di halaman Keben. Ritual berjalan keliling benteng tanpa berbicara yang dilakukan ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya, Jumat dini hari, merupakan momentum untuk perenungan diri atau refleksi terhadap hidup dan kehidupannya dengan melakukan tirakat atau "lelaku".

Tirakat yang dilakukan dengan hening itu sebagai bentuk refleksi manusia atas eksistensi dirinya. Eksistensi diri manusia yang mengada karena adanya Sang Pencipta. "Melalui perenungan diri dengan tirakat atau lelaku, masyarakat dapat melakukan evaluasi dan introspeksi diri, serta sadar bahwa manusia ada yang menghidupkan, yakni Tuhan.

Tirakat atau lelaku mengelilingi benteng keraton dalam keheningan total itu merupakan simbol keprihatinan sekaligus kesiapan masyarakat untuk menghadapi tahun yang akan datang. Dengan sikap prihatin diharapkan masyarakat dapat mawas diri dan tidak berpuas diri terhadap segala sesuatu yang telah diraih pada tahun-tahun sebelumnya. "Perilaku atau perbuatan yang dinilai negatif di masa lalu berusaha ditinggalkan, sedangkan perilaku atau perbuatan yang positif akan dipertahankan bahkan ditingkatkan, dan lebih mendekatkan diri pada Tuhan dengan meningkatkan amal ibadah,.
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »